ANALISIS DAN PENILAIAN EKUITAS
Daya tahan laba secara luas mencakup
stabilitas, prediksi, keragaman, dan tren laba. Analisis penilaian ekuitas
menekankan laba dan pengukuran akuntansi lain untuk menghitung nilai
perusahaan. Peramalan laba memperhitungkan kekuatan laba, teknik estimasi, dan
mekanisme pengawasan.
DAYA TAHAN LABA
Analisis ini membantu menghasilkan
ramalan kekuatan laba untuk penilaian yang andal. Analisis keuangan yang baik
dapat mengenali komponen laba yang stabil dan dapat diprediksi atau komponen
yang mampu “bertahan”.
Penyusunan Ulang dan Penyesuaian
Laba
Salah stau aktivitas analisis
ekuitas adalah untuk menyusun laba dan komponen laba sehinggga dapat
memisahakan elemen yang stabil, normal, dan terus-menerus dengan elemen acak,
tidak tentu, tidak biasa dan tidak berulang. Penyusunan ulang juga berguna
untuk mengetahui elemen laba kini yang seharusnya dicakup dalam hasil operasi
pada satu atau beberapa periode sebelumnya.
Informasi mengenai Daya Tahan Laba
Analisis hasil operasi untuk
menyusun dan menyesuaikan laba membutuhkan informasi yang relevan dan andal.
Sumber informasi ini yaitu:
1.
Laporan laba rugi
2.
Laporan keuangan lainnya dan catatan
atas laporan keuangan
3.
Management Discussion and Anaysis
Informasi relevan mencakup informasi
yang mempengaruhi kemampuan laba untuk dapat dibandingkan dan
diinterpretasikan. Misalnya, perubahan kombinasi produk, inovasi teknologi,
penghentian kerja dan keterbatasan bahan baku.
Penyusunan Ulang Laba dan Komponen
Laba
Penyusunan ulang dan penyesuaian
laba dapat membantu menetapkan kekuatan laba suatu perusahaan. Penyusunan ulang
bertujuan untuk menyusun komponen laba guna menyajikan klasifikasi yang lebih
berarti dan format yang relevan untuk analisis. Komponen dapat dibagi, diatur
atau dihilangkan pengaruh pajaknya, tetapi totalnya harus direkonsiliasi
terhadap laba bersih untuk tiap periode. Perlakuan yang sama diterapkan pada
komponen seperti ekuitas dalam laba (rugi) anak perusahaan atau afiliasi yang
belum direkonsiliasi. Komponen yang dilaporkan setelah pajak harus dikeluarkan
bersamaan dengan dampak pajak mereka jika diklasifikasi ulang terpisah dari
laba operasi yang berlanjut.
Penyesuaian Laba dan Komponen Laba
Proses penyesuaian menggunakan data
dari laporan laba rugi yang disusun ulang dan informasi yang tersedia untuk
meletakkan komponen laba pada periode yang lebih layak. Untuk perubahan prinsip
atau estimasi akuntasi, seluruh jumlah tahun yang dianalisis harus disesuaikan
dalam basis yang dapat dibandingkan. Perubahan estimasi dalam praktek
diterapkan secara prospektif dengan sedikit pengecualian.
Sebelum menilai daya tahan laba,kita
perlu memperoleh angka laporan keuangan dengan beberapa penyesuaian. Seluruh
komponen laba harus dipertimbangkan, jika kita telah menetapkan bahwa suatu
komponen akan dikeluarkan dari periode pelaporannya, komponen tersebut
dapat dipindahkan pada hasil operasi periode-periode sebelumnya dan disebar
sepanjang periode-periode yang sedang dianalisis, meskipun penyebarannya dapat
mebantu dalam penentuan kekuatan laba, hal ini tidak membantu dalam penentuan
tren laba.
Faktor Penentu Daya Tahan Laba
Setelah menyusun dan menyesuaikan
laba, analisis berikutnya akan menentukan daya tahan laba. Manajemen laba,
keragaman, tren, dan insentif merupakan penentuan daya tahan laba yang
potensial. Kita juga sebaiknya menilai daya tahan laba baik sepanjang siklus
usaha maupun untuk jangka panjang.
Tren dan Daya Tahan Laba
Tren laba dapat dinilai melalui
metode statistik atau dengan pernyataan tren. Tren laba sering kali
mengungkapkan petunjuk mengenai kinerja perusahaan saat ini dan masa depan
serta menilai kualitas manejemen. Mungkin salah satu motivasi utama manajemen
laba adalah untuk mempengaruhi tren laba karena dalam praktik manajemen laba
mengasumsikan tren laba penting bagi penilaian.
Majemen dan Daya Tahan Laba
Terdapat beberapa persyaratan untuk
memenuhi definisi manajemen laba. Persyaratan ini penting karena akan
membedakan manajemen laba dengan salah saji dan distori. Manajemen laba
menggunakan prinsip pelaporan akuntansi yang diterima dengan tujuan untuk
melaporkan hasil tertentu.
Beberapa bentuk manajemen laba yang
harus diwaspadai mencakup:
· Perubahan metode atau asumsi akuntansi
· Menghapus keuntungan dan kerugian luar biasa (dan tidak
biasa). Praktik ini memidahkan dampak terhadap laba yang tidak biasa dan tidak
diperkirakan yang dapat berpengaruh buruk pada tren laba.
· “Mandi besar”. Teknik ini mengakui beban periode masa depan
pada masa kini, jika kinerja periode masa kini sangat buruk. Praktik ini
melepaskan beban masa depan dari laba masa depan.
· Penurunan nilai. Penurunan nilai aktiva operasi seprti
pabrik dan peralatan dan aktiva tak berwujud seperti goodwill saat hasil
operasi sedang buruk merupakan alata manajemen laba lainnya.
· Menentukan waktu pengakuan pendapatan dan beban. Teknik ini
mengatur waktu pengakuan pendapatan dan beban untuk melakukan menajemen laba,
termasuk manajemen tren.
Insentif dan Daya Tahan Manajemen
Analisis harus mengakui insentif bagi manajer terkait dengan laba. Manajemen
laba sering kali awalnya dicapai dengan pelaporan laba yang terlalu rendah. Hal
ini menciptakan cadangan untuk dapat digunakan pada periode dengan laba rendah
dimasa depan. Dengan adanya insentif kinerja bagi manajer, dan penggunaan angka
akuntansi untuk mengendalikan dan mengawasi kinerja mereka, analisis harus
menyadari adanya potensi manajemen laba dan bahkan salah saji. Analisis harus
mampu mengenali perusahaan yang memiliki dorongan kuat untuk melakukan
manajemen laba, dan kemudian meneliti praktik akuntansi perusahaan untuk
memastikan integritas laporan keuangan.
Pos Laba yang Bertahan dan
Sementara
Penyusunan ulang dan penyesuaian
laba untuk penelitian ekuitas bergantung pada pemisahaan komponen laba yang
stabil dan bertahan dengan komponen acak sementara. Penilaian daya tahan
penting dalam penentuan kekuatan laba. Peramalan laba juga bergantung pada daya
tahan. Bagian penting dalam analisis adalah menilai daya tahan komponen
keuntungan dan kerugian dalam laba.
Analisis dan Interpretasi Pos
Sementara
Tujuan analisis dan interpretasi pos
luar biasa adalah:
1.
Menentukan apakah suatu pos bersifat
sementara (tidak bertahan). Proses ini melibatkan penilaian apakah pos tersebut
tidak biasa, bukan pos operasi, atau tidk berulang.
2.
Menentukan penyesuaian yang
diperlukan setelah mengetahui penilaian daya tahan. Sering kali diperlukan
penyesuaian khusus untuk evaluasi maupun peramalan laba.
Menentukan Daya Tahan (Sifat
Sementara) suatu pos. Adanya insentif bagi manajer
terkait dengan pelaporan pos sementara, membuat kita harus melakukan evaluasi
independen mengenai apakah suatu keuntungan atau kerugian bersifat sementara.
Untuk tujuan ini pos tersebut dibagi dalam dua kategori besar: operasi yang
berulang dan operasi yang tidak berulang.
1.
Keuntungan dan kerugian operasi
berulang
Keuntungan dan kerugian ini terkait
dengan aktivitas operasi tetapi jarang terjadi atau tidak dapat diprediksi.
Analisis keuntungan dan kerugian operasi yang tidak berulang harus mengakui
sifat jarang terjadi dan pola berulangnya. Pos ini dianggap milik periode pelaporan.
Analisis pos operasi tidak berulang tidak langsung memenuhi aturan mekanis.
Kita harus menelaah informasi dan akan menemukan beberapa pos yng lebih
bersifat berulang dibandingkan pos lain serta beberapa lebih bersifat
operasional dibandingkan yang lain.
2.
Keuntungan dan kerugian nonoperasi
yang tidak berulang
Pos ini tidak berulang dan tidak
dapat diprediksi dan terjadi diluar operasi normal. Kejadian yang menyebabkan
pos ini biasanya tidak berhubungan, tidak diinginkan, dan tidak direncanakan,
namum tidak selalu seluruhnya tidak diharapkan. Aktivitas usaha terkait dengan
resiko kejadian yang merugikan atau kejutan yang tiba-tiba terjadi, apakah
sifatnya alami atau buatan manusia.
Penyesuaian Pos Luar Biasa yang
Mencerminkan Daya Tahan.
Mempertimbangkan dampak terdapat sumber daya perusahaan dan evaluasi manajemen.
· Dampak pos sementara terhadap sumber daya perusahaan.
Keuntungan atau kerugian akan menaikan atau menurunkan sumber daya. Karena
pengembalian investasi modal mengukur hubungan laba bersih terhadap sumber
daya, keuntungan atau kerugian sementara memengaruhi pengukuran ini. Semakin
besar pos sementara, semakin besar dampaknya terhadap pengembalian. Dalam
peramalan profitabilitas dan pengembalian investasi, analis harus
mempertimbangkan dampak pencatatan pos sementara dan kemungkinan kejadian masa
depan yang menyebabkan pos sementara.
· Dampak pos sementara dalam evaluasi manajemen. Salah satu
implikasi yang sering dikaitkan dengan keuntungan dan kerugian sementara ialah
kurangnya keterkaitan mereka dengan aktivitas usaha normal. Karenanya, pos ini
jarang digunakan untuk mengevaluasi manajemen.
PENILAIAN EKUITAS BERBASIS LABA
Penilaian perusahaan merupakan tujuan penting bagi banyak pengguna laporan
keuangan. Karena estimasi nilai yang dapat diandalkan dapat digunakan untuk
membuat keputusan. Deskripsi penilaian ekuitas perusahaan tradisional dilakukan
berdasarkan metode diskonto arus kas (discounted cash flow – DCF).
Berdasarkan metode ini, nilai ekuitas perusahaan dihitung berdasarkan ramalan
arus kas yang tersedia bagi investor ekuitas. Ramalan ini lalu didiskonto
menggunakan biaya modal perusahaan.
Hubungan Antara Harga Saham dengan
Data Akuntansi
Sangat penting profitabilitas masa depan dalam menilai perusahaan, yaitu dengan
menggunakan estimasi laba bersih dan nilai buku masa depan. Estimasi yang
akurat atas ukuran ini hanya dapat dilakukan setelah mempertimbangkan kualitas
dan daya tahan laba serta kekuatan laba perusahaan. Metode penilaian berbasis
akuntansi memungkinkan adanya manipulasi dan distorsi laba oleh manajemen untuk
kepentingan pribadi. Oleh karena itu, potensi manipulasi data akuntansi bisa
atau tidak mempengaruhi peramalan nilai perusahaan.
Perkalian Penilaian Dasar
Dua pengukuran penilaian yang sering
digunakan adalah rasio ‘harga terhadap nilai buku’(price to book- PB) dan
rasio ‘harga terhadap laba’(price to earnig- PE). Pengguna sering kali membuat
keputusan investasi berdasarkan nilai rasio ini. Berikut dijelaskan bagaimana
seorang analis mendapatkan rasio “dasar” PB dan PE tanpa mengacu pada harga
pasar saham suatu perusahaan. Melaui perbandingan rasio dasar ini dengan angka
implisit pada harga pasar saham terkini, kita dapat mengevaluasi nilai
investasi suatu perusahaan milik publik. Untuk perusahaan yang sahamnnya tidak
diperdagangkan secara aktif,rasio dasar ini dapat digunakan sebagai alat untuk
mengestimasi nilai ekuitas.
Rasio Harga terhadap Nilai Buku
Rasio harga terhadap nilai buku
(price-to-book PB ratio) dihitung sebagai berikut:
Dengan mengganti perhitungan nilai
ekuitas berbasis akuntansi pada pembilangnya,rasio PB dapat dinyatakan dalam
akuntansi sebagai berikut:
+ +.....
Penghitungan ini menghasilkan
beberapa pemahaman penting. Jika ROCE ini meningkat depan dan atau pertumbuhan
nilai buku meningkat, maka rasio PB meningkat. Selain itu ketika biaya (resiko)
modal ekuitas, k, meningkat, rasio PB turun. Perhatikan bahwa rasio PB tidak
sama dengan satu jika pasar mengharapkan laba abnormal (baik positif maupun
negatif) di masa depan. Jika nilai sekarang laba masa depan yang abnormal
positif (negatif), maka rasio PB akan lebih besar (lebih kecil) dari 1.
Rasio Harga terhadap Laba
Rasio harga terhadap laba (price to
earning-PE ratio) dihitung sebagai berikut:
Ohlson and Juettner-Nauroth (2000)
memperlihatkan bahwa ratio PE dapat disajikan sebagai fungsi dari pertumbuhan
jangka pendek (short term growth - STG) dan pertumbuhan jangka panjang (long
term growth - LTG) atas laba per saham (earning per share - EPS)
sebagai berikut:
= x
Dimana r merupakan biaya modal ekuitas,STG (LTG) adalah perkiraan perubahan
persentase laba per saham jangka pendek(jangka panjang)relatif terhadap taksirn
pertumbuhan “normal”. STG>LTG dan LTG < r2. STG dapat dianggap
sebagai konsensus analis terhadap tingkat pertumbuhan selama lima tahun dan LTG
merupakan tingkat inflasi jangka panjang yang melewati horizon peramalan.
Persamaan ini memberikan dua pemahaman penting:1)Rasio PE berhubungan terbalik
dengan biaya modal,yaitu rasio ini lebih rendah (lebih tinggi) untuk biaya
modal ekuitas yang lebih tinggi (lebih rendah), dan 2)Rasio PE berhubungan
positif dengan taksiran pertumbuhan laba per saham relatif terhadap pertumbuhan
normal. Rasio PE tidak terkait dengan tingkat laba absolut(apakah laba per
saham tinggi atau rendah),hanya memperlihatkan tingkat dimana laba per saham
diharapkan meningkat relatif terhadap taksiran pertumbuhan.
Hubungan Rasio PB dan Rasio PE
Tabel berikut memberikan ringkasan
implikasi berbagai rasio PB dan rasio PE:
|
P/B
Tinggi
|
P/B
Rendah
|
|
|
P/E
Tinggi
|
I
(Perusahaan
dengan kinerja baik)
Taksiran
laba sisa (RI)positif
Laba
meningkat
|
III
(Perusahaandalam
perbaikan)
Taksiran
laba sisa (RI)negatif
Laba
meningkat
|
|
P/E
Rendah
|
II
(Perusahaan
yang menurun)
Taksiran
laba sisa (RI)positif
Laba
yang menurun
|
IV
(Perusahaan
dengan kinerja buruk)
Taksiran
laba sisa (RI) negatif
Lba
yang menurun
|
Perusahaan dengan rasio P/B dan P/E yang tinggi (kotak I) adalah perusahaan
yang memiliki harapan laba sisa positif dan laba bersih (I) yang diharapkan
akan naik dibandingkan saat ini. Ini merupakan perusahaan dengan kinerja
tertinggi (pertumbuhan yang tinggi). Sebaliknya,rasio P/B dan P/e yang rendah
(kotak IV) menunjukkan taksiran laba sisa negatif dan laba masa depan yang
lebih kecil daripada laba saat ini. Jelas bahwa perusahaan ini mengalami
kesulitan serius karena investasi mereeka saat ini diperkirakan tidak
menghasilkan pengembalian yang lebih besar dari biaya modal,dan profitabilitas
ditaksir lebih rendah dari saat ini. Perusahaan dengan rasio P/B tinggi dan P/E
rendah (kotak II) diharapkan melaporkan laba sisa positif,meskipun laba menurun.
Perusahaan ini masih menghasilkan investasi produk (nilai sekarang yang
positif) namun dalam tahap penurunan. Dan perusahaan dengan rasio P/B rendah
dan P/E tinggi (kotak III) tidak mampu menghasilkan nilai sekarang investasi
yang positif, namun profitabilitas diharapkan akan meningkat dibandingkan saat
ini. Perusahaan ini sedang memperbaiki operasi mereka,tetapi belum
menyelesaikan kesulitan operasinnya.
KEKUATAN LABA DAN PERAMALAN UNTUK
TUJUAN PENILAIN
Kekuatan Laba
Kekuatan Laba (earning Laba) mengacu
pada tingkat laba perusahaan yang diharapkan akan terjadi pada masa depan.
Dengan sedikit pengecualian, kekuatan laba di akui sebagai faktor utama dalam
penilaian perusahaan. Model penilain berbasis akuntansi mencakup kapitalisasi
kekuatan laba, dimana kapitalisasi ini melibatkan penggunaan suatu faktor atau
penggandaan yang mencerminkan biaya modal dan taksiran risiko dan pengembalian
masa depan. Banyak analisis laba dan laporan keuangan yang ditujukan untuk
menentukan kekuatan laba.
Mengukur Kekuatan Laba
Kekuatan laba merupakan konsep yang
berasal dari analisis keuangan, bukan akuntansi. Konsep ini melihat stabilitas
dan daya tahan laba serta komponen laba. Laporan keuangan digunakan untuk
menghitung kekuatan laba. Perhitungan ini membutuhkan pengetahuan, penilain,
pengalaman, dan perspektif. Laba merupakan pengukuran yang paling handal dan
relevan untuk tujuan penilain. Meskipun penilaian berorientasi masa depan, kita
harus mengakui relevansi kinerja perusahaan saat ini dan sebelumnya untuk mengestimasi
kinerja masa depan. Laba periode akhir yang melampaui siklus usaha mencerminkan
kinerja opersional aktual dan memberikan kita suatu perspektif atas aktivitas
operasi dimana kita adapat mengestimasi kinerja masa depan. Penilaian sangat
penting untuk beberapa keputusan (seperti investasi, pemberian pinajaman,
perencanaan apajak, keputusan pengendalaian atas peselisihan penilaian).
Karenanya, estimasi penilaian harus kredibel dan harsu dipertahankan, dan kita
harus meneliti jika terdapat penyimpangan dari norma.
Rentang Waktu kekuatan Laba
Periode satu tahun seringkali
terlalu singkat untuk mengukur laba dengan andal. Hal ini disebabkan karena
sifat aktivitas investasi dan aktivitas pendanan yang sebagian besar jangka
panajang, dampak siklus usaha, dan adanya berbagai faktor yang tidak berulang.
Pengukuran terbaik kekuatan laba suatu perusahaan adalah dengan menggunakan
laba rata-rata (komulatif) selama beberapa tahun. Rentang waktu untuk
menghitung laba rata-rata umumnya adalah 5 tahun (biasanya hingga 10 tahun).
Perpanjangan periode ini menugurangi distrosi, ketidakteraturan , dan dampak
sementara lainnya yang mengurangi relevansi laba satu athun. Perhitungan laba
lima tahun sering kali menekankan pengalaman terakhir sekaligus menghindar
kinerja yang tidak relevan.
Tren Laba merupakan faktor penting
dalam perhitungan kekuatan laba. Jika laba memperlihatkan tren yang bertahan,
kita dapat menyesuaikan proses rata-rata untuk memberikan bobot yang lebih
berat atas laba terkini.
Menyesuaikan Laba per Saham
Kekuatan laba dihitung dengan
menggunakan seluruh komponen laba. Setiap pos pendapatan dan beban merupakan
bagian dari pengalaman operasi perusahaan. Masalahnya adalah pada tahun yang
mana kita menempatkan pose tersebut saat menghitung kekuatan laba. Pada kasus
tertentu analisis laba kita mungkin terbatas pada jangka pendek, pos-pos pada
serangkaian laba jangka pendek disesuaikan jika lebih terakait pada periode
sebelumnya.
Jika hal ini dilakukan dengan basis
per saham, setiap pos harus disesuaikan terhadap dampak pajak dengan
menggunakan tarif pajak perusahaan kecuali jika terdapat tarif pajak tertentu.
Seluruh pos juga harus dibagi dengan jumlah saham yang digunakan untuk
menghitung laba per saham.
Peramalan Laba
Bagian utama analisis laporan
keuangan dan penilaian adalah peramalan laba. Dari perpektif analisis, evaluasi
tingkat laba sangat terkait dengan peramlan laba. Hal ini disebabkan ramalan
laba yang relevan melibatkan analisis komponen laba dan penilaian mereka di
masa depan. Peramalan laba mengikuti analisis komponen laba dan melibatkan
pembuatan pembuatan estimasi laba masa depan.
Mekanisme Peramalan Laba
Permalan mengharuskan kita untuk
menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara efektif, termasuk laba
periode sebelumnya. Peramalan juga mendapatkan manfaat dari pemisahan
(disaggregation). Pemisahan melibatkan penggunaan laba berdasarkan lini produk
atau segmen dan teruatam berguna jika segmen tersebut memiliki perbedaan
risiko, profitabilitas, atau pertumbuhan.
Penelitian anlisis mengungkapkan
berbagai karakteristik statistik dalam laba. Peretumbuhan laba tahunan sering
kali bergerak secara acak. Bagi beberapa pengguna hal ini berarti pertumbuhan
laba tidak dapat diramalkan, tetapi penelitian ini mencerminkan prilaku
keseluruhan dan bukan perilaku perusahaan individu. Peramalan laba yang andal
tidak dapat dihasilkan dari ekstrapolasi sesderhana dari pertumbuhan atau tren
laba masa lalu. Namun dilakukan dengan mengananlisi komponen laba dan
mempertimbangkan seluruh informasi yang tersedia, baik kauntitatif. Juag
melibatkan peramalan komponen ini dan spekulasi mengenai kondisi usaha masa
depan.
Elemen Peramalan Laba
Elemen pada peramalan laba adalah
memeriksa kewajaran ramalan. Untuk tujuan ini sering kali digunakan angka
pengembalian investasi modal. Jika ramalan laba menghasilkan pengembalian yang
sangat berbeda dengan pengembalian masa lalu atau pengembalian industri, kita
harus menilai kembali ramalan dan prosesnya. Perbedaan pengembalian ramalan
dengan yang sewajarnya terjadi harus dijelaskan. Pengembalian investasi
modal tergantung dari laba, sementara laba merupakan produk kualitas
produk manajemen dan manajemen aktiva.
· Kualitas manajemen.
Dibutuhkan manajemen yang memilki akses ke berbagai sumber daya untuk
menghidupkan aktiva melalui penggunaan yang efesien dan menguntungkan.
Stabilitas hubungan dan tren dapat diasumsikan stabil jika menunjukkan tidak
ada perubahan besar atas keahlian, kedalaman, dan kelangsungan manajemen.
Disamping itu juga, menunjukkan tidak adanya perubahan yang besar pada jenis
usaha yang sesuai dengan keahlian manajemen.
· Manajemen aktiva.
Perusahaan membutuhkan aktiva untuk mengembangkan operasi. Kelangsungan
keberhasilan dan ramalan pertumbuhan bergantung pada sumber pendanaan dan
dampaknya terhadap laba.
Kondisi keuangan suatu perusahaan
merupakan elemen peramalan laba lainnya. Kurangnya likuiditas dapat membatasi
keberhasilan manajemen dan struktur modal yang berisiko dapat membatasi
tindakan manajemen. Semua ini disertai faktor-faktor seperti ekonomi, industri,
dan faktor kompetitif lain, merupakan hal yang relevan terhadap peramalan laba.
Melaporkan Peramalan Laba
Peramalan manajemen berbeda dengan peramalan yang dilakukan analis keuangan.
Kendalan peramalan tergantung pada akses informasi dan asumsinya. SEC
menyarankan agar peramalan dilakukan dengan “itikad baik” dengan landasan yang
layak. SEC merekomendasi agar peramalan disajikan dalam format laporan keuangan
dan disertai dengan informasi yang cukup bagi investor untukm menilai kendalan.
SEC memiliki aturan safe harbor yang melindungi perusahaan dari tuntutan
hukum jika prediksi mereka tidak menjadi kenyataan.
Laporan Interim untuk Pengawasan dan
Revisi Estimasi Laba
Laporan keuangan interim merupakan sumber informasi yang berharga untuk
mengawasi kinerja. Laporan ini berguna untuk merevisi estimasi kekuatan laba
dan peramalan laba. Namun tetap harus disadari bahwa laporan keuangan interim
memiliki keterbatasan yang terkait dengan kesulitan untuk meletakan komponen laba
pada periode kurang dari satu tahun.
Penyesuaian Akuntansi Akhir Tahun
Menentukan hasil operasi untuk periode satu tahun membutuhkan beberapa
penyesuaian akrual dan estimasi. Penyesuain ini mencakup pengakuan pendapatan,
menentukan biaya persediaan, alokasi overhead, mencari nilai pasar sekuritas,
dan memperkirakan piutang tak tertagih.
Aktivitas Usaha Musiman
Beberapa perusahaan memiliki aktivitas usaha musiman. Penjualan, produksi, dan
aktivitas operasi lain sering kali tidak dapat dibagi sama antar periode
interim. Hal ini dapat mendistorsi perbandingan laba interim. Selain itu juga
dapat menimbulkan masalah pada alokasi biaya-biaya yang sifatnya diskresioner,
seperti iklan, penelitian, pengembangan, perbaikan dan pemeliharaan.
Metode Pelaporan Menyeluruh
Laporan kuartalan merupakan bagian dari keseluruhan satu tahun dan bukannya
periode diskrit, mensyaratkan pengakuan pendapatan dan beban. Hal ini mencakup
penyusutan persediaan, diskon atas kuantitas, dan piutang tak
tertagih.
Persyaratan Pelaporan Interim SEC
1.
Laporan interim komparatif dan
laporan keuangan hingga tanggal ini dapat diberi judul tidak diaudit tetapi
harus dimasukan dalam laporan tahunan.
2.
Neraca komparatif.
3.
Laporaan arus kas hingga hari ini.
4.
Informasi pro forma mengenai
penggabungan usaha yang dicatat sebagai pembelian.
5. Kesesuaian dengan prinsip akuntansi berlaku umumdan
pengungkapan perubahan akuntansi, termasuk surat dari auditor.
6.
Analisis naratif manajemen mengenai
hasil operasi.
7.
Pengungkapan mengenai apakah Form
8-K diisi selama periode – melaporkan apakah terdapat penyesuaian laba yang
tidak biasa atau pergantian auditor.
Analisis Implikasi Laporan Interim
Analisis harus waspada terhadap kesalahan estimasi dan diskresi yang melekat
pada laporan interim. Terbatasnya keterlibatan auditor pada laporan interim
mengurangi keandalan laporan interim relative terhadap laporan tahunan yang
diaudit. Peraturan pasar modal memberikan sejumlah keyakinan, meskipun
terbatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar